Monday, April 19, 2004

Lagi, Majapahitisme

From: "estananto" <estananto@y...>
Date: Mon Apr 19, 2004 2:08 pm
Subject: Re: Tulisan menarik dari Liputan 6 SCTV


Bung Alma,

itulah gambaran Majapahitisme yang terus dipelihara. Di satu sisi, keberhasilan Raden Wijaya menghalau pasukan Kubilai Khan keluar dari tanah Jawa merupakan prestasi luar biasa yang hanya bisa ditandingi oleh orang Jepang (itupun karena orang Jepang dibantu "angin suci", Kamikaze). Namun di sisi lain, faham fasistik Gajah Mada tentu bertentangan dengan semangat republiken yang hendak dikembangkan di
Republik Indoensia. Bagaimana cara Gajah Mada memperlakukan Sri Baduga Maharaja, bagaimana pula cara Gajah Mada menaklukkan kerajaan2 di Sumatera sebagian kelanjutan kampanye Raja Kertanegara dari Singhasari itu. Sumpah Palapa yang dipelajari jutaan orang itu, tidak lain adalah faham fasistik karena hanya menyangkut kejayaan bangsa
dengan jalan penaklukan. Nasionalisme yang dibangun atas dasar Sumpah Palapa adalah nasionalisme fasis. Soekarno sendiri melengkapi nasionalismenya dengan apa yang ia namakan internasionalisme dalam Pancasila agar ia tidak jatuh menjadi fasis. Dalam tulisannya tahun 1941, ia berharap bahwa Soviet akan mampu bertahan terhadap Nazi
Jerman karena itu adalah lambang kemenangan terhadap fasisme.
Sayang sekali kemudian pengaruh kekaguman terhadap Sumpah Palapa dalam perjalanan pemerintahan Soekarno mengabaikan sama sekali logika sosial-demokrat Hatta yang berujung pada kehancuran: alih2 menata ekonomi seperti yang disarankan Hatta, Soekarno malah membangun angkatan perang terbesar di belahan bumi selatan untuk "merebut" Papua Barat. Revolusi populis gaya Soekarno akhirnya gagal membangun
identitas bangsa yang maju.
Salah satu pertimbangan Sam Ratulangi dari Minahasa agar belahan nusantara timur bergabung dengan Republik Indonesia adalah karena budaya melayu-pesisir, bukan karena ide kebulatan wilayah Majapahit. Soekarno sendiri pernah mengakui bahwa Hatta sebagai wakil presiden adalah modal besar karena ia mewakili pemimpin non-Jawa. Kebiasaan orang Sumatera yang biasa dengan kekontrasan (tergambar pada pakaian
pengantin yang penuh warna kontras) dan budaya intelektual Minangkabau (dari sini lahir para intelektual yang beragam ideologinya dari M. Natsir hingga Tan Malaka) telah menjadi modal penting pembentukan budaya melayu-pesisir, di samping sisi
egalitarian Islam (sementara Islam yang berkembang di Jawa lebih menekankan pada sisi esoteris tanpa merubah struktur kekuasaan raja-raja Jawa).
Maka untuk mempertahankan ide Republik Indonesia, dengan bentang wilayah dalam 3 daerah waktu, ratusan suku bangsa, puluhan ribu pulau, memang membutuhkan pola pandang yang cocok, apalagi jika kita ingin meletakkan diri dalam konteks demokrasi. Kita tidak lagi bisa mempertahankan ide Sumpah Amukti Palapa yang fasistis itu karena tidak akan kompatibel dengan keanekaragaman; ide ini lebih merujuk ke
ke-Tunggal-an dari mana ke-Bhinneka-an. Kita harus lebih memahami perbedaan bukan hanya dengan mengajarkan anak sekolah pada perbedaan baju adat namun perbedaan pola pikir, cara berkomunikasi, dlsb. Sama seperti cara Amerika mengadopsi orang2 kulit hitam yang sebelumnya dianggap budak, kita harus menemukan cara bagaimana orang Indonesia yang berbeda kultur dan bahkan warna kulit menemukan identitasnya
secara alami.

Salam,
Nano

No comments: